Video Description
#tribuntimur #tribunviral #hargakeledai #rupiahmelemah #pengusaha #tahutempe #maros #keuntunganmenipis
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada harga kedelai di pasaran.
Kenaikan harga bahan baku ini dirasakan para pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Maros.
Salah satunya dialami pemilik Pabrik Tahu Madinah Barokah, Siti Nur Imadina yang terletak di Samping SMA 1 Maros, Kecamatan Turikale.
Ima sapaan akrabnya mengaku harga kedelai mengalami kenaikan dalam satu bulan terakhir.
“Dari harga Rp10 ribu per kilo, sekarang sudah Rp11.400,” kata Ima saat ditemui, Selasa (19/5/2026).
Ia menuturkan, kedelai yang digunakan untuk produksi didatangkan dari gudang di wilayah Makassar.
“Ambil dari gudang samping tol sekitar Makassar,” katanya.
Tak hanya harga kedelai, biaya bahan penunjang lainnya juga ikut meningkat.
Ia mengatakan harga plastik untuk kemasan mengalami kenaikan hingga 50 persen.
Meski biaya produksi meningkat, pihaknya belum menaikkan harga jual tahu dan tempe.
Ia menyebutkan harga jual masih menyesuaikan harga pasar karena persaingan usaha tahu dan tempe di Maros cukup ketat.
Saat ini harga tahu masih dijual Rp35 ribu per kotak untuk eceran pasar.
Sementara harga tempe masih dijual Rp5 ribu per bungkus.
“Di pabrik di Maros itu bukan cuma satu, banyak. Harus sama harganya, takut pelanggan lari,” ucapnya.
Ia juga memastikan ukuran tahu dan tempe yang dijual tidak diperkecil meski harga bahan baku naik.
Akibat kenaikan harga bahan baku tersebut, keuntungan usaha mengalami penurunan.
“Keuntungannya mungkin turun hampir 10 persen, sebelumnya omzet bisa Rp3 juta perhari,” katanya.
Meski keuntungan menurun, produksi tahu dan tempe di pabriknya masih berjalan normal.
Dalam sehari, Pabrik Tahu Madinah Barokah memproduksi sekitar empat karung kedelai atau setara sekitar 200 kilogram.
Produksi tersebut kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar di wilayah Maros.
Di antaranya Pasar Tramo, Pasar Carangki, Batangase hingga Bulu-Bulu.
Ia berharap pemerintah dapat membantu menstabilkan harga kedelai dan plastik agar usaha kecil seperti miliknya tetap bisa bertahan.
“Harapannya harga kedelai kembali normal, harga plastik juga normal,” tuturnya.
Salah satu IRT, Marlina berharap harga tempe tidak dinaikkan.
Sebab tempe menjadi lauk alternatif saat harga ikan atau ayam melonjak.
"kalau bisa jangan semuanya naik, karena berat untuk IRT seperti kami," bebernya.
Reporter: Nurul Hidayah
Narator: Wa Ode Nurmin
Editor Video : Sanovra J. R
(TRIBUN-TIMUR.COM)
Update info terkini via http://tribun-timur.com/
Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks
YouTube business inquiries: 081144407111
Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur
Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur