Video Description
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Marinir AS menaiki kapal tanker minyak berbendera Iran di Teluk Oman pada hari Senin dalam sebuah operasi pencegatan maritim. Operasi ini menargetkan apa yang digambarkan oleh para pejabat Amerika sebagai dugaan pelanggaran terhadap tindakan penegakan sanksi di laut.
Rekaman yang dirilis oleh CENTCOM menunjukkan sebuah helikopter militer melayang di atas kapal saat pasukan dikerahkan ke atas dek selama operasi berlangsung.
Tanggal dan lokasi pasti dari rekaman yang dibagikan oleh CENTCOM tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.
Berdasarkan pembaruan operasional, pasukan AS menggeledah kapal tanker tersebut dan memberikan instruksi kepada awak kapal sebelum mengizinkan kapal melanjutkan perjalanannya dengan kondisi rute yang diubah.
Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa pasukan Amerika telah meningkatkan aktivitas penegakan hukum maritim di wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini termasuk pencegatan dan pengalihan arah kapal-kapal komersial yang diduga mencoba menghindari pembatasan terkait ekspor minyak Iran.
Amerika Serikat mempertahankan rezim sanksi terhadap Iran yang mencakup pembatasan ekspor dan transportasi minyak mentah Iran.
Di bawah kerangka kerja ini, pasukan angkatan laut AS dan sekutunya memantau kapal-kapal yang diduga membawa minyak Iran atau yang mencoba menyembunyikan rute asal dan tujuannya. Iran telah berulang kali mengecam operasi semacam itu, menggambarkannya sebagai gangguan ilegal terhadap pelayaran komersial dan pelanggaran terhadap kebebasan navigasi.
Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa ia telah bersiap untuk sebuah 'serangan yang sangat besar besok' terhadap Iran—namun mengklaim bahwa negara-negara Teluk telah memintanya untuk tidak melakukannya. Negara-negara tersebut kemudian menyatakan bahwa mereka tidak tahu-menahu mengenai adanya rencana serangan dalam waktu dekat.
Gencatan senjata sempat dinyatakan pada bulan April, di mana proposal-proposal dilaporkan saling bertukar di antara kedua belah pihak melalui mediator Pakistan.
Kendati demikian, krisis Selat Hormuz terus berlanjut, dengan Iran yang menutup jalur tersebut bagi negara-negara yang 'tidak bersahabat' dan AS yang memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memutuskan bahwa uranium tidak boleh dikeluarkan dari Iran.
Sikap tersebut melawan salah satu tuntutan utama negosiasi damai yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari The Times of Israel, keputusan Mojtaba Khamenei itu membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin frustasi.
Sikap tersebut juga dinilai bisa mengancam upaya damai mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat.
Mojtaba Khamenei disebut telah memerintahkan larangan pengiriman uranium yang mendekati tingkat senjata ke luar negeri.
Sementara Trump sendiri bersikeras meminta agar uranium Iran harus dikeluarkan dari negara tersebut.
Meski begitu pihak Iran memiliki pertimbangan keamanan yang berbeda.
Para pejabat tinggi Iran meyakini bahwa pengiriman material nuklir ke luar negeri justru akan membuat pertahanan Iran melemah.
Sehingga Iran lebih rentan terhadap serangan masa depan dari AS dan Israel.
Oleh karena itu Iran memutuskan tidak akan menuruti Trump dan bakal menyimpan uranium di dalam negeri.
Hingga berita ini ditulis, pihak AS belum memberikan tanggapan resmi mengenai situasi tersebut.
(Tribun-Video.com)
Program: Hot Topic
Editor Video: Difa Isnaeni Azizah
#viory