Video Description
#tribuntimur #tribunviral #saksikata #hasnaapea #jemaahhaji #haji #sidrap #meninggal #tendamina
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP — Duka menyelimuti keluarga jamaah haji asal Kabupaten Sidrap. Hj Hasna Apae, jamaah haji reguler Kloter 40 UPG, meninggal dunia di Tanah Suci pada Kamis (28/5/2026) di tenda Maktab 60 Mina.
Perempuan berusia 50 tahun itu diduga meninggal akibat penyakit jantung yang telah lama dideritanya.
Kabar wafatnya Hj Hasna pertama kali diketahui keluarga di Desa Padangloang, Kecamatan Duapitue, setelah kerabat yang turut menunaikan ibadah haji bersama almarhumah menghubungi pihak keluarga di kampung halaman.
Kepergian Hj Hasna meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.
Ia meninggalkan seorang suami, H Sabir, serta lima orang anak yakni Sarina, Rinaldi, Syamsinar, Nabila, dan Anisya.
Almarhumah juga meninggalkan tiga orang cucu yang sangat disayanginya.
Di balik kepergiannya, tersimpan kisah yang membuat keluarga tak kuasa menahan haru.
Beberapa waktu sebelum berangkat ke Tanah Suci, Hj Hasna ternyata sempat meminta anaknya untuk membelikannya kain kafan.
“Sebelum berangkat, mama memang ingin sekali membeli kain kafan. Walaupun waktu itu hujan deras, dia tetap memaksa anaknya untuk mengantar ke tempat penjual kain kafan. Ternyata, pakaian terakhir yang dia siapkan itu memang untuk dirinya sendiri di Tanah Suci,” ujar Syamsinar saat ditemui di rumah duka, Jumat (29/5/2026).
Menurut informasi yang diterima keluarga, Hj Hasna dimakamkan di pemakaman bersejarah Jannatul Ma’la, Mekkah.
Kompleks pemakaman tersebut dikenal sebagai tempat dimakamkannya Sayyidah Khadijah, istri Rasulullah SAW, serta sejumlah keluarga Nabi Muhammad SAW.
Jannatul Ma’la berada sekitar 1 hingga 1,5 kilometer dari Masjidil Haram dan menjadi salah satu pemakaman paling bersejarah di Kota Suci Mekkah.
Selama menjalankan ibadah haji, Hj Hasna didampingi ibunya, om, dan tante dari pihak keluarga.
Dari merekalah keluarga di Sidrap mengetahui setiap proses yang dijalani almarhumah hingga pemakaman berlangsung.
Kerabat keluarga, H Ibnu Hajar, mengenang Hj Hasna sebagai pribadi yang penuh semangat sejak awal keberangkatan menuju Tanah Suci.
“Waktu di bus sebelum berangkat, beliau semangat sekali melambaikan tangan. Tidak ada firasat sama sekali kalau penyakit jantungnya akan kambuh di sana. Tapi semua itu sudah menjadi takdir Allah SWT dan kami harus belajar mengikhlaskan,” katanya.
Kondisi kesehatan Hj Hasna memang membutuhkan perhatian khusus.
Selama ini, ia rutin mengonsumsi obat jantung yang memiliki efek samping membuatnya lebih sering buang air kecil.
Namun saat berada di Mina, kondisi antrean toilet yang panjang membuat almarhumah memilih menghentikan sementara konsumsi obatnya agar tidak bolak-balik ke kamar mandi.
Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji dan cuaca ekstrem di Mina, kondisi Hj Hasna semakin melemah.
Bahkan saat prosesi lempar jumrah berlangsung, ibadahnya harus dibadalkan oleh petugas haji karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh menuju lokasi jamarat.
Jarak dari Maktab 60 menuju tempat lempar jumrah diketahui mencapai sekitar dua kilometer saat berangkat dan tiga kilometer saat perjalanan kembali.
Dalam syariat haji, jamaah dengan kondisi kesehatan tertentu memang diperbolehkan untuk dibadalkan demi menjaga keselamatan jiwa.
Di rumah duka, keluarga besar telah menggelar tahlilan bersama warga dan kerabat yang datang silih berganti memberikan doa serta dukungan moril bagi keluarga yang ditinggalkan.
Keluarga juga berencana menyembelih seekor kambing kurban yang diniatkan khusus untuk almarhumah.
Hj Hasna menutup perjalanan hidupnya di usia 50 tahun, di tempat paling dirindukan umat Islam, dalam keadaan menunaikan ibadah haji.
Ia pergi saat menjadi tamu Allah, lalu dimakamkan di tanah para kekasih-Nya.
Sebuah pengingat bagi banyak orang bahwa kematian memang tidak pernah diketahui waktunya, tetapi setiap manusia selalu berharap dapat pulang dalam keadaan terbaik.
Dan bagi keluarga, Hj Hasna bukan hanya dikenang karena kepergiannya, melainkan juga karena jejak keikhlasan dan keyakinan yang ia tinggalkan hingga akhir hayatnya (*)
Reporter : Hardiyanti Kamaluddin
Editor Video : Sanovra J. R
Narator : Rasni Gani
(TRIBUN-TIMUR.COM)
Update info terkini via http://tribun-timur.com/
Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks
YouTube business inquiries: 081144407111
Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur
Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur